Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Kerajinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2017

BATIK PRING SEDAPUR

SIAPA yang tak kenal Batik PringSedapur ? Ya, batik khas daerah Magetan itu berasal dari sebuah desa di lereng Gunung Lawu yang sarat dengan pohon bambu. Yakni, Dusun Papringan, Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan.
Pring dalam bahasa Jawa adalah bambu. Pring Sedapur berarti Serumpun pohon bambu. Kini para perajin tak hanya dari Dusun Papringan, tapi warga dusun lain di Desa Sidomukti. Bahkan ada juga di juga dari luar desa. Dari papringan itulah nama Pring Sedapur itu terinspirasi.
Di dusun itulah banyak tumbuh pohon bambu yang sangat lebat, sehingga dinamakan Dusun Papringan, yang berarti di bawah pohon bambu.
Sejarah Batik Pring Sedapur dimulai dari masa awal perkembangan Islam. Setelah pecah perang, banyak prajurit Mataram lari ke daerah timur Gunung Lawu untuk mencari tempat yang aman, di antaranya di Desa Sidomukti dan sekitarnya. Di tempat itu mereka mengenalkan budaya batik kepada masyarakat sekitar Desa Sidomukti. Awalnya para perajin mayoritas berasal Dusun Papringan. Mereka mendapatkan keahlian membatik dari nenek moyangnya.
Di awal masa jabatannya sebagai kepala DesaSidomukti pada tahun 1998, Tikno bersama Arif, salah satu penghobi batik asal Ngawi, belajar bagaimana membuat batik dan mengembangkannya di Magetan. Dengan mengambil motif gambar bambu yang terdapat di Dukuh Papringan jadilah motif batik pring sedapur

KERAJINAN TOPI CAPING

Anda tahu yang namanya caping? Apa anda juga pernah memakainya? Yups, caping merupakan topinya para petani. Topi ini terbuat dari anyaman bambu yang bentuknya seperti gunung, mengerucut ke atas. Selain itu, terdapat tali dibagian bawah untuk menjaga keseimbangan pemakainya agar tidak mudah lepas.

Bentuknya sangat khas sehingga sangat disukai oleh para petani di desa. Selain itu, caping ini mampu melindungi kepala dari sengatan matahari di siang hari. Hal yang jaman sekarang ini sudah jarang terlihat. Arus budaya dari luar terus menggerus nilai-nilai budaya lokal yang luhur.


Cara pembuatan ayaman bambu topi caping ini terbilang cukup rumit, pola dan teksturnya harus sama agar terlihat rapi dan teratur. Harga topi caping petani ini sangat beragam, ada yang berukuran besar dan ukuran kecil. Semua tergantung dari pesanan pelanggan.

SEPATU KULIT

Sejak tahun 1960, Kabupaten Magetan sudah cukup dikenal oleh masyarakat Nusantara sebagai daerah penghasil bahan baku kulit, berbagai jenis olahan kulit samakan banyak diproduksi di daerah ini. Bukan hanya bahan bakunya saja, beragam produk hasil kerajinan kulit juga menjadi produk unggulan, salah satunya adalah sepatu kulit Magetan.
Tidak heran, banyak masyarakat di Indonesia memilih Magetan untuk memproduksi sepatu kulit karena mereka sudah tahu akan kualitas bahan bakunya.
Pengrajin di daerah ini cukup kreatif dan bisa membuat produk yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Produk kulit bagus yang dihasilkan seperti jaket kulit, tas kulit, dompet kulit, ikat pinggang, dan yang paling terkenal adalah Sepatu Kulit Asli Magetan. Sepatu kulit Magetan sudah terkenal dengan kualitasnya yang sangat baik karena awet dan tahan lama.
Proses produksi produk kerajinan kulit di Magetan semuanya dikerjakan handmade secara langsung dari tangan kreatif para pengrajin. Hingga sepatu kulit Magetan telah banyak dinikmati oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Banyak juga penjual sepatu kulit dan sepatu kerja formal dari luar daerah yang memasok sepatu dari pengrajin sepatu kulit di Magetan.

KERAJINAN GAMELAN

Gamelan merupakan alat musik tradisional khas jawa, biasanya digunakan sebagai pengiring pementasan wayang (baik wayang kulit maupun manusia). Selain sebagai pengiring wayang juga sebagai pendamping lagu campursari, ludruk, yang terbaru adalah dikenalkan pada opera van java (yang disiarkan pada salah satu televisi swasta). Gamelan adalah alat musik dengan nada pentatonis, gamelan memiliki kurang lebih 15 instrument. Instrument tersebut diantaranya engkuk, kemong, gambang, kendang, gong, bonang, demung, saron, klethung, slenthem, dan lain sebagainya.
        Industri Gamelan ini dikerjakan dengan peralatan tradisional, namun hasilnya cukup mengagumkan. Hasil industri ini sempat diexport ke beberapa negara di benua Eropa, walaupun sekarang sedang terhenti, tetapi kami berusaha untuk mengulang dan mampu melebihi masa keemasan tersebut. Sentralisasi usaha kerajinan ini terdapat di Desa Kauman, Karangrejo +/- 14 Km arah timur kota Magetan.
        Jika anda berkunjung ke tempat ini, anda akan bisa mempelajari pembuatan Gamelan. Mulai dari bagaimana menetukan bahan baku yang akan digunakan, bentuk arsitektur yang akan dibuat. Sampai proses penentuan nada yang pas, pengecatan dan lain sebagainya. Setelah mencoba membuat dan mengetahui prosesnya maka anda akan berkesempatan untuk mencobanya (bermain Gamelan). Selain mengebangkan budaya leluhur, hal ini juga akan mengembangkan kreatifitas dalam berkarya.
        Selain menerima pesanan paketan untuk sebuah grup musik atau tontonan, para perajin disini juga menyediakan jualan perbuah. Hal ini tentu sangat menarik bagi pengunjung, karena selain untuk alat musik, Gamelan sangatlah pantas sebagai barang pajangan. Hiasan interior maupun ekrterior, karena memiliki keunikan dan nilai seni yang tinggi. Jadi jika ingin makin cinta budaya leluhur serta tanpa kehilangan manfaat yang besar perlu untuk membeli barang sebuah Gamelan. Untuk harga tentunya akan lebih murah karena ini langsung diprodusen tanpa harus ke penjual.
        Tempat ini juga kami pastikan menyuguhkan yang lebih dari sekedar tempat kerajinan gamelan, karena keramahan penduduk Magetan sudah tidak bisa diragukan lagi. Untuk transportasi anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Penginapanpun bisa langsung ke tempat perajinnya, karena perajin akan sangat bahagia jika dikunjungi dan diberi apresiasi.

KERAJINAN GENTENG

Desa Gulun dikenal dengan industri kerajinan genteng. Mayoritas penduduk desa Gulun bermata pencaharian sebagai pengrajin genteng, terutama untuk generasi tuanya. Mengenai industry kerajinan genteng ini, Desa Gulun bisa di bilang sebagai kepala untuk sektor industry ini. 
Karena sejak tahun 1920-an, industry ini mulai dikenal dimasyarakat desa ini. Tetapi mulai dikerjakan secara profesional sebagai bentuk usaha baku sekitar tahun 1970-an.Di era 1990-an, industry genteng di dessa Gulun ini mulai menjadi primadona sebagai sektor usaha yang menjanjikan, bahkan di era itu banya desa-desa di sekitar yang ikut menggeluti bidang usaha ini. Tidak hanya itu, tingkat pengangguran nyaris tidak ada karena adanya industry genteng ini.
 
 
Blogger Templates